Beranda » Financial Planner » Dana Pensiun » Persiapkan sejak Usia 35 Tahun

Persiapkan sejak Usia 35 Tahun

Kompas | Minggu, 25 Oktober 2009 | 02:39 WIB
Berbicara tentang masa pensiun berarti membicarakan orang-orang yang sudah masuk kategori lanjut usia. Untuk memahami berbagai masalah psikologis yang mungkin timbul pada mereka yang menjalani pensiun, perlu dipahami psikologi dari manusia yang memasuki tahapan lanjut usia ini.

Demikian diungkapkan guru besar psikologi dari Universitas Indonesia, Prof Dr Fawzia Aswin Hadis, di Jakarta, Kamis (22/10). Pakar psikologi perkembangan ini mengatakan, tahap lanjut usia adalah tahap akhir dari perkembangan hidup seorang manusia.

”Berbeda dari psikologi perkembangan anak yang masih tumbuh dan berkembang, psikologi lansia sudah terbentuk berdasarkan akumulasi perilaku dan pengalaman hidup sebelumnya,” papar Fawzia.

Selain itu, kondisi fisik para lansia ini juga dipastikan sudah menurun dibandingkan saat mereka lebih muda. Kombinasi faktor psikologi dan kesehatan ini menjadi penentu saat mereka memasuki masa pensiun.

Menurut Fawzia, beban paling berat seorang yang memasuki pensiun adalah berhentinya salah satu aktivitas rutin yang selama ini ia geluti. ”Pensiun pada dasarnya adalah penghentian suatu kegiatan. Sesuatu yang biasa dilakukan tiba-tiba berhenti. Kalau (kegiatan itu) tidak diganti dengan sesuatu yang baru, (yang bersangkutan) akan merasa sepi dan tidak berguna,” ungkap Fawzia.

Bertambah
Beban psikologis itu akan makin bertambah seiring dengan menurunnya penghasilan seorang pensiunan. Padahal, lanjut Fawzia, kaum lansia justru memiliki kebutuhan yang lebih besar dibanding dengan saat mereka lebih muda. ”Orang kebanyakan berpikir orang-orang tua itu sudah tidak memiliki kebutuhan, padahal, dengan kondisi kesehatan yang sudah menurun, kebutuhan mereka justru lebih besar, terutama untuk menjaga kesehatan itu,” kata Fawzia.

Itu sebabnya, selain menyiapkan tabungan hari tua yang cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan tersebut, seorang yang memasuki masa pensiun diharapkan sudah menyiapkan aktivitas pengganti untuk menghabiskan waktu pensiunnya tersebut.

”Seorang yang akan pensiun harus mempersiapkan aktivitas, apakah itu menekuni hobi atau mencari kesibukan lain, yang penting tidak melelahkan,” tandas Fawzia.

Bahkan, psikolog Wahyu Indianti menyarankan agar persiapan masa pensiun sudah dilakukan sejak seseorang berada pada usia puncak produktivitasnya, yakni antara 35-50 tahun. ”Seseorang sudah harus mulai menginvestasikan dana atau menabung untuk masa pensiun,” tutur psikolog dari UI ini.

Iin, panggilan akrab Wahyu, juga menyarankan agar para pensiunan bergabung atau membentuk komunitas beranggotakan orang-orang sebaya. Dengan begitu, mereka tetap punya kegiatan, berteman, dan bersosialisasi.

”Pensiunan tidak bisa mengharapkan anak-anaknya memerhatikan mereka terus, sebab anak-anak juga memiliki kehidupan dan kesibukannya sendiri,” ungkap Iin.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: